top_logo

Select language

PERSAMUHAN BODHICITTA MANDALA INDONESIA

... hati dan pikiran yang luhur ...

EDISI 4

 

Perguruan Buddhis Bodhicitta dan Program Anak Asuh Metta Jaya adakan seminar “Bahaya Narkoba dan Seks Bebas”.

    Sabtu, 25 Maret 2006, Perguruan Buddhis Bodhicitta dan Program Anak Asuh Metta Jaya adakan seminar “Bahaya Narkoba dan Seks Bebas” di Avia Samudra Polonia Medan.
    Seminar ini dibuka oleh Drs. Anjan Pramuka Putra didampingi oleh Bhiksu Nyanaprathama, Bapak Burhan Kho (Ketua PBMI), Ibu Chen Suk Hua (Koordinator Anak Asuh Metta Jaya), Bapak Djohan Kutamso (Pengurus PBMI), Bapak Halim Sentosa (Wakil Yayasan Perguruan Buddhis Bodhicitta), dan Bapak Alfian Salim (Ketua Panitia).
    Direktorat Reserse Narkoba Poldasu AKBP. Drs. Anjan Pramuka Putra membawakan makalah “Bahaya Narkoba dan Sanksi Hukum”,  Dr. Bungaran Sihombing membicarakan “Seks Bebas dan Penyakit Menular akibat Seks Bebas dan Narkoba”, serta Dra. Mustika Tarigan dengan makalah “Bahaya Narkoba dan Seks Bebas ditinjau dari Sudut Psikologi”
    Tujuan diadakannya seminar ini untuk memberikan pengertian dan pengetahuan akan akibat dari bahaya narkoba dan seks bebas.
    Seminar ini diikuti oleh 600 siswa-siswi SMP dan SMA Perguruan Buddhis Bodhicitta. Dalam seminar ini Bapak AKBP. Drs. Anjan Pramuka Putra juga menunjukan sampel/contoh jenis-jenis narkoba kepada para peserta. Kegiatan seminar ini juga dirangkaikan tanya jawab dengan para nara sumber.

Bodhicitta Mandala Indonesia Cabang Banda Aceh dan Palang Merah Taiwan adakan Pelatihan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)

    Banda Aceh, tanggal 2 dan 3 Maret 2006 bertempat di Kantor Bodhicitta Mandala Indonesia Cabang Banda Aceh diadakan pelatihan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K).
    Kegiatan ini bertujuan memberikan pengajaran kepada masyarakat tentang teknik menyelamatkan diri dan orang lain dengan tidak membahayakan diri sendiri dalam keadaan darurat atau bahaya. Relawan Palang Merah Taiwan juga mengajarkan teknik tali temali yaitu bagaimana cara menyimpulkan tali, mengikat tali ketika berada dalam keadaan darurat misalnya pada saat terjadi kebakaran.
    Pada kesempatan ini juga Relawan Palang Merah Taiwan mengajarkan teknik bagaimana menyelamatkan orang yang tenggelam dalam keadaan tidak sadarkan diri dan lain sebagainya. Bapak Liong Phin Soen selaku Kepala Cabang Perwakilan Bodhicitta di Banda Aceh mengucapkan banyak terima kasih kepada Relawan Palang Merah Taiwan yang begitu antusias mengajarkan warga masyarakat dan diharapkan kegiatan ini dapat dilakukan kembali pada masa yang akan datang.

 

Koordinator Anak Asuh Ibu Chen Suk Hwa Kunjungi Banda Aceh

    Banda Aceh, 19 – 21 Maret Ibu Chen Suk Hua selaku Koordinator program anak asuh Metta Jaya di dampingi  Kepala Bimbingan Belajar anak asuh Ibu Maria Linda melakukan kunjungan kerja ke Banda Aceh. Kunjungan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kondisi perekonomian para orang tua yang anak-anak mereka menjadi anak asuh Metta Jaya.
    Dalam kunjungan nya Ibu Chen Suk Hua di dampingi oleh Ibu Maria Linda dengan berjalan kaki melakukan kunjungan ke rumah orang tua anak asuh,  walaupun  cuaca tidak bersahabat (panas) tetapi tidak mengurangi semangat untuk melihat langsung keberadaan perekonomian orang tua yang anaknya menjadi anak asuh Metta Jaya pasca tsunami.tahun 2004.
    Para orang tua anak asuh merasa senang atas kunjungan yang dilakukan oleh Ibu Chen Suk Hua, dan mereka berharap anak mereka tetap menjadi anak asuh Metta Jaya.

Ribuan Umat Buddha Pawai Lilin Peringati Ulang Tahun Dewi Kwan Im


    Seribuan umat Budha yang berasal dari Medan dan sekitarnya melaksanakan ritual pawai jalan kaki yang diberi nama “Prosesi Lilin” untuk memperingati Avalokitesvara yang merupakan Ulang tahun Dewi Kwan Im yang di pusatkan di vihara Metta Karuna Jalan Percut, Sabtu 18 Maret 2006 malam.
     Pawai pejalan kaki yang di awali prosesi lilin dari vihara itu sekitar pukul 19.30 Wib berlangsung khikmat di Pandu Yang Mulia Bhiksu Nyanaprathama, dimana seluruh peserta sambil membawa lilin meyala berjalan dari vihara Metta Karuna dengan tertib sambil membacakan doa-doa bersama-sama dengan melangkahkan kaki menuju jalan Balige selanjutnya ke Jalan Sumatera kemudian ke Jalan Kalimantan dan kembali ke vihara sejauh lebih kurang 4 Km.
    Sesampai di vihara tersebut, satu persatu mereka menyerahkan kembali lilin yang dibawa saat prosesi ritual itu kepada pengurus vihara dan dibariskan rapi di tempat yang telah di sediakan. Kemudian seluruh peserta pawai berbaris rapi di vihara dan bersama- sama dengan khusuk memanjatkan doa yang dipimpin Yang Mulia Bhiksu Nyanaprathama.

Keluar dari Masalah

    Menurut sejumlah pengurus vihara prosesi lilin menjadi acara tetap untuk memperingati ulang tahun Dewi Kwan Im. Pada Tahun ini Perayaan Avalokitesvara dilaksanakan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
    Prosesi lilin kali ini dilaksanakan dengan pawai keluar yang merupakan doa dari semua umat Budha agar bangsa ini dapat segera keluar dari masalah dan krisis bangsa yang masih terus berlangsung.
    Sebelumnya, prosesi lilin ini hanya dilaksanakan dilingkungan vihara. Karena itu pada tahun ini dilaksanakan keluar dengan pawai lilin bersama seribuan umat Budha yang menjadi perlambang doa serta harapan agar segara bangsa ini dapat segera menemukan jalan keluar untuk menyelesaikan seluruh krisis ataupun masalah, sehingga dapat lebih baik dari sebelumnya.



WAKIL BUPATI HUMBANG HASUDUTAN KUNJUNGI  KANTOR BODHICITTA MANDALA INDONESIA DI JALAN  BILAL


Pada Selasa, 21 Maret 2006 Bodhicitta Mandala Indonesia menerima kunjungan Wakil Bupati Kabupaten Humbang Hasudutan Bapak Marganti Manulang di kantor Bodhicitta Mandala Indonesia  Jl. Bilal no. 170 Medan. Beliau diterima oleh  Suhu Nyanapratama, Bapak Burhan Kho dan Bapak Handra Sikoko. Wakil Bupati yang didampingi oleh 3 orang stafnya datang bersilahturahmi membalas kunjungan Suhu Nyanaprathama beberapa waktu lalu ke Humbang Hasudutan.
    Dalam kesempatan ini Wakil Bupati menjelaskan potensi Kabupaten Humbang Hasudutan yang memiliki luas 2.335,33 km persegi ini 10 kecamatan memiliki banyak potensi alam seperti ada 150 air terjun dan saat ini ada 2 PLTA yang beroperasi, puluhan gua walet, kandungan tambang, hasil pertanian berupa coklat, karet, sayur mayur, jeruk dan kopi yang sangat terkenal yaitu kopi lintong karena bebas pestisida. Khusus kemenyan diperkirakan hasil mencapai 60 ton perminggu namun karena tidak adanya pengolahan lanjutan membuat masyarakat menjual kemenyan mentah dengan harga murah untuk dibawa ketempat lain. Demikian juga dengan potensi sayuran kuang berkembang dengan baik karena tidah adanya jaminan harga yang pasti dari pemerintah.
    Potensi budaya juga sangat menarik karena salah satu daerah di Humbang Hasudutan yaitu desa  Bakkara merupakan desa dimana Raja Sisingamangaraja XII lahir dan dibesarkan serta berjuang melawan penjajahan Belanda dan saat ini keturunan beliaupun serta peninggalan sejarahnya masih ada disana. Selain itu juga bagian danau toba merupakan daerah yang potensial dikembangkan tapi pengembangan masih terbentur masalah pendanaan dan sumber daya manusia.
    Dalam program penyelamatan lingkungan Humbang Hasudutan mempunyai program kecil menanam, besar menuai yaitu program penanaman pohon dipolibag oleh anak sekolah dan jika telah besar diserahkan kesekolah untk dinilai dan ditanam. Program ini bekerjasama dengan Keuskupan Agung  Medan yang sudah berjalan selama 2 bulan di 5 kecamatan yaitu kecamatan Dolok Sanggul, kecamatan Pollung, kecamatan Baktiraja, kecamtan Lintong Nituha dan kecamatan Paraginan. Bantuan yang diterima PEMDA berupa polibag sebanyak 500 kg yang didistribusian ke sekolah-sekolah.
    Pada kesempatan ini beliau juga menjelaskan bahwa  peruntukan lahan di Humbang Hasudutan khususnya hutan seluas 154.000 ha dimana 70% dikuasai TPL atau indorayon, dan sisanya merupakan hutan kemasyarakatan yang ditanami pinus dan eucalyptus serta lahan terlantar. Cukup banyak lahan terlantar yang ada di kabupaten ini khususnya di sekitar danau Toba. Kabupaten Humbanh Hasudutan sendiri  memiliki 20% total luas danau Toba.
Program konservasi sudah berjalan cukup lama disini dengan dana yang tidak sedikit namun hasil yang dicapai tidak sebanding. Menjawab pertanyaan bapak Burhan Kho tentang seberapa banyak masyarakat yang menggantungkan ekonominya dari kayu, beliat menjawab snagat sedikit sekali namun humbang adalah daerah lintasan perdagangan kayu di Sumatera Utara dan rata-rata dilakukan oleh oknum dari luar daerah.
    Dalam kesempatan ini Suhu Nyanaprathama mengundang PEMDA Humbang Hasudutan untuk ikut bergabung dalam workshop Water Envoromental Education yang dilaksanakan di Taiwan pada 29-30 april 2006. ajakan ini disambut hangat oleh Wakil Bupati dan menyatakan kesediaan langsung untuk ikut jika tidak berhalangan maka Bupati Humbang Hasudutan langsung yang akan berangkat ke Taiwan yaitu Bapak Maddin Sihombing.
Suhu menyatakan untuk menggunakan kesempatan ini untuk sarana banding guna membangun Humbang Hasudutansecara keseluruhan.
    Wakil Bupati menyambut baik  hal tersebut bahkan menurut beliau PEMDA punya komitmen yang kuat  bagi siapa saja yang ingin mengembangkan Humbang Hasudutan khususnya pelestarian alam melalui berbagai kemudahan, kebeijakan dan perlindungan demi kemajuan alam Humbang Hasudutan. Kesepakatan lanjutan adalah akan ada pembicaraan dan pengkajian yang bersifat tehnis yang akan dilakukan oleh kedua lembaga untuk membangun Humbang Hasudutan  secara meyeluruh namun tetap berpihak pada pelestarian alam.



 
 

 
News | Gallery | Contact Us |
© 2007 Bodhicitta Mandala. All right reserved | www.bodhicittamandala.org
Powered by nusanet | www.nusa.net.id